10+ Sisi Positif Tantrum pada Anak

0

Para orang tua pasti sudah akrab dengan istilah tantrum. Tantrum, atau biasa pula disebut temper tantrum, adalah istilah bagi ledakan emosi yang biasanya diasosiasikan dengan anak-anak dalam kondisi stres akibat emosi negatif. Tantrum umumnya ditandai dengan keengganan atau sikap keras kepala, tangisan, teriakan, pembangkangan, kemarahan, penolakan atas upaya-upaya untuk menenangkan diri, dan pada level selanjutnya bisa saja timbul kekerasan. Anak-anak kerap kali mengekspresikan tantrum melalui rentetan kata-kata bernada marah dalam jangka waktu yang lama.

Tantrum adalah hal yang normal pada anak-anak, dengan catatan tidak berlangsung setiap hari secara kontinu. Keterbatasan kosakata anak-anak berdampak pada munculnya rasa frustrasi karena mereka tidak bisa menyampaikan dengan jelas apa yang mereka rasakan atau butuhkan. Lauren Wakschlag dari Northwestern University’s Feinberg School of Medicine melakukan penelitian pada lebih dari 1500 anak berusia tiga sampai lima tahun.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa 84% dari anak-anak itu pernah tantrum pada bulan sebelumnya.

Anda tidak perlu merasa khawatir berlebihan ketika anak Anda sedang tantrum. Tantrum bahkan memiliki sisi positif dan bermanfaat bagi anak sekaligus Anda sebagai orang tuanya.

1. Menangis terbukti baik untuk kita semua, termasuk anak Anda

Air mata mengandung hormon stres yang disebut kortisol. Menangis membantu pelepasan stres dari tubuh. Anak yang tantrum merasa marah atau frustrasi, tetapi akan mereda setelahnya. Biarkan prosesnya berjalan sampai emosinya berakhir tanpa interupsi. Aletha Softer, penulis buku The Aware Baby, mengatakan:

“Anak-anak dilengkapi dengan peralatan untuk memperbaiki diri dan bisa mengatasi dampak stres melalui mekanisme penyembuhan alami, yaitu menangis. Banyak penelitian telah membuktikan menangis bermanfaat bagi semua usia dan air mata membantu mengembalikan keseimbangan kimiawi tubuh setelah stres.”

2. Perasaan buruk yang sesekali muncul adalah normal

Pada anak yang dibesarkan dengan larangan untuk menangis akan tertanam pemahaman bahwa ia tidak diinginkan saat perasaannya buruk. Akan jadi masalah jika di kemudian hari ia harus menghadapi keterpurukan emosi.

Tetap tenang saat anak Anda menangis memberi pesan penting bahwa tidak perlu takut menghadapi emosi negatif dan tidak apa-apa jika terkadang ia mengalami perasaan itu. Ini merupakan pelajaran penting baginya agar kelak ia bisa menghadapi emosi negatif dengan cara yang sehat.

3. Emosi bisa tersampaikan

Tantrum membuat anak Anda belajar tentang emosi. Gelombang emosi memiliki fase awal, puncak, dan akhir yang akan terlewati jika anak Anda bisa mengeluarkannya. Anak-anak sering tidak bisa mengendalikan emosinya dan di sinilah peran Anda untuk membantunya.

pixabay.com

4. Emosi negatif dikeluarkan dan digantikan emosi positif

Setelah tantrum, anak akan merasa lebih baik dan tenang. Anda pun akan memiliki persepsi berbeda tentang tangisan anak-anak.

5. Anda juga akan merasa lebih baik

Perasaan lebih baik itu juga akan Anda rasakan ketika menyadari dukungan Anda membantunya melewati fase emosionalnya.

6. Anda bisa berkata ‘tidak’ dan itu adalah hal baik

Anak Anda tantrum mungkin karena Anda berkata ‘tidak’. Itu adalah hal baik karena Anda sudah menetapkan batasan tentang perilaku baik dan buruk. Anda bisa bersikap tegas dengan tetap memberikan rasa cinta.

pixabay.com

7. Anda mendapatkan kepercayaan anak

Anak-anak hanya akan mengeluarkan emosinya saat berada di lingkungan yang membuatnya merasa aman dan dikelilingi orang-orang yang menurutnya mencintainya tanpa syarat. Maka, sebenarnya itu adalah sebuah isyarat yang menunjukkan bahwa ia mempercayai Anda untuk membantunya menghadapi emosi.

8. Anda pun bisa belajar memberikan kepercayaan kepada anak

Memang sulit untuk mendengarkan anak Anda ketika ia menangis. Anda mungkin cenderung ingin menghentikan tangisannya dan membuatnya merasa lebih baik atau tertawa. Mungkin ada ketakutan bahwa ia tidak bisa melaluinya. Namun, Anda harus yakin ia akan bisa melaluinya, yang tersulit sekalipun.

9. Anak-anak yang bisa menyalurkan emosinya akan tumbuh menjadi individu yang lebih tenang dan lebih bahagia

Jika ada interupsi yang menghalangi tantrum berakhir sebagaimana seharusnya, emosi itu akan mencari jalan keluar lain sebagai pelampiasan. Bisa jadi berupa perilaku yang tidak Anda inginkan. Anak-anak bisa mengembalikan keseimbangan emosinya sendiri. Jangan menghalangi prosesnya hanya karena tidak tahan dengan tangisannya.

pixabay.com

10. Membantu membentuk empati

Ketika anak Anda mengalami tantrum dan perlahan-lahan belajar memahami emosinya sendiri, ia juga akan mulai menumbuhkan kepedulian terhadap emosi orang lain. Tunjukkan bahwa Anda memahami, menerima, dan bersimpati dengan apa yang dilaluinya. Itu akan membantunya bersikap dengan penuh kepedulian terhadap sekitar.

11. Terbentuk ikatan anak-orang tua yang lebih kuat

Ketenangan dan dukungan yang Anda tunjukkan saat anak Anda tantrum membuktikan padanya bahwa Anda akan tetap mencintainya meskipun ia telah mengeluarkan sisi terburuknya.

12. Proses penyembuhan bagi Anda

Perilaku anak-anak terkadang juga dapat memicu emosi bagi orang tuanya. Anda bisa mengamati perilaku anak yang bagaimana yang berpotensi menjadi pemicu. Jika Anda bisa menghadapi dan melaluinya dengan tenang, serta tidak terpengaruh dengan emosi anak Anda, maka pada akhirnya Anda menjadi orang tua yang lebih baik dengan kepercayaan diri dan kebahagiaan yang meningkat.

pixabay.com

Beberapa fakta berikut ini mungkin bisa membantu Anda menghadapi anak yang sedang tantrum.

1. Tantrum mengikuti pola tertentu yang bisa diprediksi

Tantrum mungkin terlihat sebagai satu kondisi kacau, tetapi sebenarnya tidak. Tantrum memiliki pola tertentu yang terdiri dari tiga fase. Pada fase pertama anak akan berteriak; pada fase kedua anak akan melemparkan barang atau menjatuhkan diri ke lantai; fase ketiga melibatkan tangisan dan rengekan.

Anda mungkin menganggap fase kedua sebagai eskalasi situasi yang semakin memburuk. Namun sebaliknya, fase kedua justru menunjukkan bahwa puncak emosi sudah terlewati dan situasi beralih menjadi lebih kondusif. Anda sebaiknya menghindari intervensi pada fase pertama dan kedua, serta menunggu sampai fase ketiga untuk menenangkan anak Anda.

pixabay.com

2. Mencoba berargumentasi adalah hal yang sia-sia

Anak-anak yang tantrum sedang mengalami meltdown di mana emosinya sedang tidak stabil. Mencoba berargumen dan memberikan alasan tidak akan berhasil dan hanya membuat kemarahannya membesar. Hindari pula untuk bertanya karena itu justru semakin membebani otaknya untuk memikirkan jawaban. Cobalah untuk memberi kalimat perintah pendek yang tegas, misalnya ‘duduk’, ‘diamlah’, atau ‘pergi ke kamarmu’. Kalimat-kalimat seperti ‘jadilah anak baik’ terkesan kurang jelas dan tidak mewakili maksud Anda secara spesifik.

pixabay.com

3. Ada beberapa tipe tantrum yang membutuhkan pendekatan berbeda

Umumnya tantrum pada anak bisa digolongkan menjadi tiga jenis. Tipe pertama adalah attention tantrum; anak Anda diam dan akan ‘meledak’ ketika Anda mulai berbicara. Tipe kedua adalah tangibles tantrum; ketika anak Anda tidak diperbolehkan memiliki apa yang ia mau, misalkan ketika dilarang membeli mainan di toko. Tipe ketiga adalah command avoidance tantrum; ketika anak Anda tidak mau berhenti melakukan sesuatu, contohnya ketika Anda memintanya berhenti bermain dan segera tidur.

Pendekatan terbaik untuk dua tipe pertama adalah mengabaikannya, yaitu tidak menyerah dan menuruti keinginannya. Mengabaikan bukanlah tidak peduli sama sekali. Mengabaikan dalam perspektif anak Anda adalah atensi negatif (negative attention) yang lebih baik daripada tidak peduli sama sekali (no attention). Pada tipe ketiga Anda bisa menerapkan kalimat perintah dengan berhitung, misalnya ‘Ayah/Ibu akan berhitung sampai lima. Pada hitungan kelima kamu sudah harus berhenti bermain.” Berhitung memberi anak Anda kesempatan bersiap-siap. Jika pada hitungan kelima ia belum juga beranjak, saatnya Anda menghentikannya. Ia tidak akan menyukai cara ini dan belajar untuk menghindarinya di kemudian hari.

pixabay.com

4. Sesekali Anda boleh menyerah di bawah keadaan tertentu

pixabay.com

Seperti pada saat Anda lupa membelikan permen yang Anda janjikan sebelumnya. Hal tersebut tidak sama dengan mula-mula menolak permintaannya, tetapi kemudian menurutinya; ini justru memberi kesan bahwa ia bisa menggunakan tantrum sebagai usaha untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.[*]

Sumber:

parenting.com

parents.com

respectfulmom.com

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.