15 Kesalahan Pemula dalam Berkebun Sayur dan Buah

0

Akhir-akhir ini pamor berkebun sebagai suatu kegemaran semakin menanjak, terutama di kalangan masyarakat perkotaan. Hal ini tidak luput dari tren gaya hidup sehat yang semakin lekat dengan kehidupan masyarakat urban. Gaya hidup sehat yang juga ramah lingkungan dipercaya lebih baik untuk kesehatan tubuh dan keberlangsungan lingkungan hidup. Kebutuhan akan bahan-bahan makanan yang segar dan minim kontaminasi zat kimia sintetik adalah salah satu dampak yang tidak bisa terelakkan lagi, bahkan banyak yang memilih untuk menanam sendiri sayur atau buah-buahan yang akan dikonsumsi. Maka tidak heran jika istilah urban farming atau urban gardening menjadi akrab di telinga.

Sayangnya, banyak pemula melakukan kesalahan saat berkebun sehingga mengalami kegagalan atau memperoleh hasil yang belum optimal. Belajar dari sana, kita bisa menghindari kesalahan pemula dalam berkebun tersebut untuk memperbesar peluang sukses dalam berladang sayur dan buah. Berikut ini adalah kesalahan-kesalahan umum yang sering dilakukan oleh para pekebun pemula:

1. Tidak Melakukan Riset Sebelumnya

Riset berkaitan dengan semua informasi tentang tanaman yang akan kita tanam, mulai dari kebutuhan nutrisi, sinar, dan air, jenis tanah yang cocok, sampai seberapa besar ruang yang diperlukan agar tumbuh optimal. Penting untuk melakukan riset sebelum kita mulai berkebun, apalagi untuk pertama kalinya. Riset membantu kita membuat rencana dan kalkulasi yang baik tentang hal-hal yang diperlukan.

2. Penempatan yang Kurang Tepat

Ini berhubungan dengan kebutuhan sinar matahari bagi sayuran dan buah yang ditanam. Pencahayaan yang baik akan menunjang pertumbuhan sayur dan tanaman buah. Pada umumnya sayur dan tanaman buah memerlukan sekitar 8 jam sinar matahari langsung (direct sunlight) dalam satu hari. Tentu ini tidak jadi masalah di negara tropis seperti Indonesia yang memiliki panjang hari relatif sama sepanjang tahun. Namun, perlu diperhatikan pula jika ada sesuatu yang bisa menghalangi sinar matahari langsung di kebun, seperti pohon besar atau arah jatuhnya bayangan rumah.

(pxhere.com)

Selain itu, letak sumber air juga perlu dipertimbangkan. Sumber air yang terlalu jauh dari kebun kemungkinan besar akan menimbulkan kerepotan nantinya. Jangan sampai timbul rasa malas untuk menyirami kebun hanya karena letak sumber air yang tidak mudah dijangkau.

3. Tidak Mempersiapkan Lahan atau Tanah Media Tanam

Tanah adalah media tumbuh bagi tanaman. Tidak semua jenis tanah baik untuk berkebun. Secara teknis, tanah yang bagus untuk tanaman memang memiliki beberapa indikator tertentu, seperti nilai pH dan ketersediaan unsur hara. Maka penting sekali untuk mempersiapkan tanah sebelum mulai berkebun.

(flickr.com/Larry & Teddy Page)

Meskipun terkesan konvensional seperti pada sistem pertanian umumnya, langkah-langkah penyiapan tanah perlu dilakukan. Kita bisa mempersiapkan tanah antara lain dengan menyiangi rumput dan tumbuhan pengganggu lainnya, mencangkul atau membolak-balikkan tanah untuk mengaerasi tanah, serta memberikan kompos atau pupuk organik sebagai persiapan nutrisi bagi tanah dan tanaman. Jika pH tanah asam atau basa, diperlukan penambahan bahan tertentu agar pH tanah menjadi netral. Langkah-langkah persiapan ini berlaku untuk semua metode berkebun yang akan kita terapkan, baik berkebun di lahan maupun di dalam wadah atau pot.

4. Menanam Terlalu Banyak

Baik jenis atau jumlah tanamannya. Kita mungkin terlalu bersemangat saat akan mulai berkebun dan membeli terlalu banyak benih tanaman, tetapi kita perlu mempertimbangkan kemampuan diri sendiri sebelum memutuskan seberapa besar skala kebun pertama kita. Jangan lupakan pula risiko kegagalan yang mungkin terjadi.

Memulai sesuatu dengan hal yang sederhana dan mudah adalah pilihan yang lebih bijak. Begitu juga dengan berkebun. Berkebun membutuhkan keterampilan yang perlu dilatih dalam jangka waktu yang cukup panjang. Beberapa pekebun menyarankan untuk menanam 2-3 jenis sayuran atau buah yang menjadi favorit keluarga selama tahun pertama. Ini akan memperbesar peluang keberhasilan. Barulah setelah itu kita bisa menambahkan jenis tanaman pada tahun-tahun berikutnya. Ini bisa menjadi metode belajar yang bagus dan kemahiran dalam berkebun akan berkembang seiring perkembangan kebun kita.

5. Menyiram Terlalu Banyak atau Terlalu Sedikit

Air juga merupakan faktor penting bagi pertumbuhan tanaman. Banyak pekebun pemula yang mengira bahwa semakin banyak air, semakin baik juga pertumbuhan tanaman. Terlalu banyak air akan menjadikan tanah basah dan jika kondisi ini berlangsung lama, akar tanaman akan membusuk. Sebaliknya, kekurangan air akan membuat tanaman layu. Jika dibiarkan, lama-kelamaan tanaman akan mati meskipun kita sudah berusaha menyiraminya kembali.

(pexels.com)

Kita bisa menyiram tanaman 1-3 kali dalam seminggu (tergantung cuaca panas atau hujan). Memperhatikan kondisi tanah adalah salah satu trik kuncinya. Untuk tanaman yang ditanam di lahan, kita perlu menyiram sampai tanah di sekitar tanaman benar-benar basah. Untuk tanaman dalam pot, kita bisa menyiram sampai terlihat rembesan atau tetesan air dari lubang drainase pot. Menyiram dalam percikan (seperti hujan atau shower) lebih baik daripada mengguyurkan air sekaligus dan waktu terbaik untuk menyiram tanaman adalah pada pagi hari.

6. Memberi Pupuk Terlalu Banyak atau Pada Waktu yang Tidak Tepat

Sama seperti kebutuhan air, kuncinya adalah memberikan pupuk dalam jumlah yang cukup dan waktu yang tepat. Contohnya, semua tanaman butuh nitrogen. Unsur nitrogen penting bagi pertumbuhan daun. Pada kadar yang tinggi, sayuran seperti sawi dan selada akan tumbuh dengan optimal, tetapi sebaliknya untuk kentang atau umbi-umbian lain.

(flickr.com/SuSanA Secretariat)

Untuk pilihan yang ramah lingkungan, kita bisa menggunakan kompos dengan campuran kotoran hewan. Kompos kaya dengan nutrisi untuk tanaman dan tanah, serta tidak menyebabkan tanah menjadi jenuh. Pemberian kompos bisa menjaga kondisi tanah tetap baik, bahkan setelah beberapa periode tanam.

7. Tidak Memberi Jarak yang Cukup di antara Tanaman

Ini biasanya terjadi saat kita menumbuhkan benih. Tidak masalah jika benih muda tumbuh bergerombol, tetapi tanaman dewasa butuh jarak yang cukup untuk bisa tumbuh secara optimal dan memberikan hasil terbaik. Jarak antartanaman yang terlalu dekat menciptakan persaingan untuk mendapatkan nutrisi, air, dan sinar matahari. Kita perlu melakukan thinning, yaitu memisahkan benih-benih dan memberi ruang tumbuh yang cukup. Tidak ada ukuran yang pasti untuk setiap jenis tanaman. Ini lagi-lagi membutuhkan perhitungan yang lahir dari keterampilan berkebun yang terlatih setelah sekian lama.

(pxhere.com)

8. Tidak Menerapkan Mulsa

Mulsa adalah material organik seperti jerami, sekam, atau daun-daun kering. Mulsa berperan penting untuk menjaga akar tanaman tetap dingin saat cuaca panas, mempertahankan kelembapan tanah, mencegah pertumbuhan gulma, melindungi tanah dari hujan atau angin, dan bisa menjadi sumber nutrisi tanaman saat mulsa membusuk. Penerapan mulsa pada benih muda tidak perlu terlalu tebal agar benih masih bisa mendapatkan sinar matahari yang cukup.

(flickr.com/SuSanA Secretariat)

9. Tidak Memberikan Perlindungan Pada Tanaman

Terutama pada benih, tanaman muda, bunga, dan buah yang baru terbentuk. Hujan dan angin kencang bisa menyebabkan kerontokan daun, bunga, dan buah. Selain itu, perlindungan juga menjaga tanaman dari serangga dan burung.

Kita bisa menggunakan pelindung jaring atau net yang banyak tersedia di pasaran, misalnya insect net yang berfungsi melindungi tanaman dari serangga. Untuk tanaman yang tidak menyukai terlalu banyak sinar matahari, kita bisa menggunakan paranet untuk membatasi penetrasi sinar.

(commons.wikimedia.org)

10. Menanam Benih Terlalu Dalam atau Terlalu Dangkal

Pada umumnya kedalaman penanaman tergantung pada besar benih atau bibit. Jika ditanam terlalu dalam atau terlalu dangkal, benih akan gagal tumbuh. Benih yang ditanam terlalu dalam akan menyebabkan ‘kelelahan’ sebelum benih mencapai permukaan dan mendapatkan sinar yang cukup. Sebaliknya benih akan mengalami kekeringan jika ditanam terlalu dangkal. Keterangan tentang seberapa dalam benih seharusnya ditanam bisa didapatkan dari label benih atau riset tentang tanaman yang akan kita tanam.

11. Menanam dengan Posisi Terbalik

Contohnya pada jenis bawang-bawangan yang memiliki ujung tumbuh akar dan ujung tumbuh tunas. Jika ditanam terbalik, pertumbuhannya akan terhambat karena ujung-ujung tersebut butuh waktu lebih lama untuk mencari arah tumbuh yang semestinya.

12. Menggunakan Wadah atau Pot yang Ukurannya Tidak Sesuai

Jika kita menanam di dalam wadah atau pot, penting untuk mengetahui ukuran yang sesuai. Masalah sering timbul dari ukuran pot yang lebih kecil daripada tanaman. Kita perlu mengamati kondisi tanaman. Jika terlihat akar menyembul dari permukaan tanah atau keluar melalui lubang drainase, saatnya untuk memindahkan tanaman ke dalam pot yang lebih besar.

(pxhere.com)

13. Tidak ada kontrol terhadap gulma dan hama tanaman

Gulma adalah kompetitor dalam mendapatkam nutrisi, sehingga merugikan bagi tanaman utama. Kita sebaiknya menyiangi gulma secara teratur. Waktu terbaik adalah saat gulma masih kecil dan sistem perakarannya belum kuat. Semakin besar, semakin sulit untuk mencabut gulma.

Hama tanaman juga bersifat merugikan. Kontrol hama sebaiknya dilakukan secara teratur. Kita bisa menggunakan pestisida alami untuk mengusir hama jika keberadaannya sudah sangat mengganggu.

(en.wikipedia.org)

14. Melupakan Peran Polinator (Hewan yang Membantu Proses Penyerbukan)

Berbeda dengan hama tanaman atau hewan-hewan lain yang merugikan tanaman, adanya polinator justru menguntungkan. Polinator berperan membantu proses penyerbukan agar pembuahan bisa terjadi dan terbentuk buah. Untuk tanaman buah, kita bisa menarik kehadiran polinator dengan menanam tanaman berbunga seperti bunga matahari atau yucca. Namun, kita tidak bisa memasang insect net karena itu akan menghalau semua jenis serangga.

15. Menyerah Sebelum Berhasil

Selalu ada kemungkinan untuk gagal, tetapi jangan jadikan itu sebagai alasan untuk berhenti mencoba. Setiap kebun akan memberi pengalaman berbeda dari waktu ke waktu. Jika pengalaman berkebun pertama gagal, kita bisa istirahat sambil mematangkan rencana terlebih dahulu sebelum mencoba lagi. Berteman dengan pekebun lain pun bisa banyak membantu.[*]

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.