Cara Agar Tetap Waras di Era Media Sosial yang Tanpa Batas

0

Seiring berkembangnya zaman, media sosial semakin memudahkan seseorang untuk melakukan komunikasi dua arah. Tidak hanya dengan orang yang dikenal, bahkan kita mulai bisa saling berbalas obrolan dengan orang yang sama sekali belum pernah kita temui.

Dengan ini pula, sosok-sosok yang dahulu hanya mampu berkomunikasi satu arah, sekarang sudah bisa membaca dan –jika mau—membalas segala komentar orang biasa. Dengan semakin membaurnya batasan-batasan ini, orang-orang dengan berbagai kelakuan pun kadang bisa mempengaruhi psikologi seseorang. Nah, gimana ya caranya agar kita tetap waras di era media sosial ini? Yuk simak

1. Media sosial bukan untuk kamu yang baperan

Untuk kamu yang perasa, tanggalkan sejenak sifat kamu yang satu ini. Bermain media sosial hanya akan membuat kamu stress jika apa-apa yang orang katakan kamu masukkan ke dalam hati dan pikiran. Lagipula, belum tentu apa yang diucapkan sesorang sesuai dengan yang kamu

pikirkan kok. Sifat perasa ini juga lho yang akhirnya akan mempengaruhi apa yang kamu tulis di media sosial nantinya.

2. Sebelum berkomentar, coba pikir dulu efek dan manfaatnya

“Ih gendut banget.”, “Wah kok sekarang jelek sih?”, “Nggak bahagia ya?” Familiar dengan kalimat-kalimat tersebut? Jika kamu termasuk salah satu yang menuliskannya di kolom komentar sebaiknya pikirkan lagi apa manfaat dari menulis komentar itu.

Memang sih, kamu punya hak untuk mengomentari orang lain, tapi kalau nggak ada gunanya alih-alih mambuat si yang punya kiriman jadi nggak percaya diri dan minder, untuk apa dilakukan? Kamu pun belum tau apa yang sebenarnya terjadi di belakang kiriman itu, jadi kurang-kurangin menghakimi orang lain apalagi dengan kata-kata pedas.

3. Tidak menyebar berita yang belum pasti kebenarannya

Sering mendapat informasi atau link berita dari grup whatsapp? Atau kiriman di facebook yang menyuruh ketik angka 1 agar selamat? Mulai sekarang, sebelum menyebarkannya, coba cek apakah informasi tersebut benar adanya atau hanya hoax semata.

Jika kamu asal membagikan berita hoax, ada kemungkinan kamu membantu menyebabkan kerugian pihak lain, atau bahkan menyebarkan ketakutan bagi pihak-pihak tertentu dan memecah belah umat. Wih

4. Tidak semua hal harus diumbar, sedih maupun bahagia

Media sosial memang tempat untuk berbagi. Banyak hal yang ingin kita bagikan agar orang lain tahu. Tapi, nggak semua hal harus dibagikan. Selain spamming di media sosial, ganggu juga kehidupan nyata kamu. Yang harusnya bertemu untuk quality time malah kebanyakan bikin instagram story. Sesekali sih nggak apa-apa tapi kalau keseringan?

Bukan hanya hal positif aja yang sering dibagikan. Kadang, ketika memiliki masalah yang berat, sebagian orang cenderung akan membagikannya di media sosial karena nggak punya teman untuk berbagi. Tapi, sebelum kamu kirim, coba dipikir-pikir lagi, orang yang baca akan peduli atau malah menganggapmu drama, mereka akan ikut bersimpati atau malah senang mendapati kamu sengsara?

5. Kurangi stalk akun gossip, manfaatkan sisi yang positif

Jika kamu merasa media sosial lama-kelamaan bersifat adiktif dan toxic, coba ubah list following kamu. Kalau masih kebanyakan mengikuti akun gosip dengan komentar-komentar bersifat hate speech atau akun propaganda yang mengganggu kestabilan jiwa, coba ganti dengan akun-akun humor atau akun yang memberi informasi bermanfaat untuk kamu. J

angan lupa juga, ada sisi positif dari media sosial yaitu  bisa membantu kamu mencari barang yang kamu cari dengan lebih mudah bahkan kamu sendiri bisa berjualan di sana.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.